Gaya Ruang Keluarga Lesehan Kreatif

  • Whatsapp

Tak laksana sentra kerajinan tangan lainnya, bila datang ke tempat pembuatan kasur lesehan, sekilas tak terdapat tampak kegiatan produksi. Padahal di dekat jalan Blok Karang Duku, Desa Cikeduk, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon ini, sejumlah rumah menghasilkan puluhan kasur lesehan tiap harinya, tergolong rumah buatan kasur lesehan Haji Sanudi.

3 Inspirasi Ruang Tamu Lesehan Tanpa Sofa. Elegan, Nggak Kayak
3 Inspirasi Ruang Tamu Lesehan Tanpa Sofa. Elegan, Nggak Kayak | Ruang Keluarga Lesehan
Desain Interior Ruang Tamu Tanpa Kursi Yang Cantik Dan Kreatif
Desain Interior Ruang Tamu Tanpa Kursi Yang Cantik Dan Kreatif | Ruang Keluarga Lesehan

Bacaan Lainnya

Pintu masuk rumah buatan ini, ditutupi kain kelambu guna menjaga supaya kapuk-kapuk tidak berterbangan terbawa angin. Tidak melulu pintu masuk, ketika proses produksi, telinga, hidung, dan mulut puluhan pekerja kasur lesehan juga tertutup rapat kain, untuk mengawal pernafasan. Wajar saja, pengerjaan kasur lesehan ini seluruhnya masih manual, tanpa mesin.

“Sudah nyaris sepuluh tahun saya berkerja di sini. Pekerja lelaki memasukan kapuk ke dalam kain, dan beberapa ibu-ibu lainnya menjahit sisi, kanan dan kiri. Seluruhnya manual, tanpa pertolongan mesin,” kata Katima, perempuan paruh baya, ketika ditemui, Rabu (24/9/2014).

3 Desain Ruang Tamu Lesehan Minimalis  Cocok di Rumah Mungil
3 Desain Ruang Tamu Lesehan Minimalis Cocok di Rumah Mungil | Ruang Keluarga Lesehan

Wanita yang berkeinginan menginjak umur ke lima puluh empat itu, menunjukan teknik kerjanya dalam memproduksi kasur lesehan. Tahap mula dilakukan oleh lelaki yang bertugas memasukan kapuk-kapuk ke dalam kasur lesehan. Setelah lengkap, kasur separuh jadi, diserahkan pada kaum ibu-ibu guna menjahit sisi kanan dan kiri. Kemudian kasur ditimbang seberat 2,5 – 4 Kilogram, tergantung besaran ukuran kasur.

Tidak berhenti di situ, walau sudah dijahit, terdapat pula perempuan tua yang melakukan finishing dengan membereskan jahitan yang rusak. Barulah, kasur lesehan dikemas dengan plastik, dan siap dikirim ke sejumlah wilayah.

 “Sebelum saya ikut berkerja, kasur lesehan ini sudah tidak sedikit yang beli. Mobil dan Truk pengangkutnya berasal dari Jakarta, Bandung, dan wilayah lain. Sekarang justeru sudah hingga luar pulau jawa,” jelas Katima yang letak rumahnya sangat berdampingan dengan lokasi tinggal produksi.

Katima, pekerja yang bertugas menjahit sisi kasur lesehan diupah sebesar Rp 3.000 sampai sekitar 5.000 persatu kasur bergantung jenis dan ukurannya. Dalam sehari, ia dapat menuntaskan rata-rata sepuluh kasur. Katima bisa mengantongi upah selama Rp 30.000 sampai 50.000 perhari, dan Rp 900.000 hingga Rp 1.500.000. Sebuah upah yang lumayan besar ketimbang upah UMR Kabupaten Cirebon selama Rp 1.200.000.

Mang Syafi’i (40), di antara orang keyakinan Haji sanudi, mengakui usaha buatan kasur lesehan sudah dilangsungkan belasan tahun silam. Saat ini, ada sekitar 25 pekerja yang memproduksi kasur lesehan. Dengan tugas yang beragam, dalam sehari mereka dapat menuntaskan sekitar 50 sampai 70  kasur lesehan. Bahkan bila sedang tidak sedikit pesanan, mereka bisa menyelesaikan sampai sekitar 100 kasur perhari.

“Tiap kasur, harganya berbeda-beda,  bahan kainnya, motif, sampai ukuran kainnya dari 200 x 180 Cm, sampai yang sukup kecil 80 x 185. Harganya berkisar, Rp 100.000 sampai Rp 300.000,” jelas Syafi’I, di tengah usahanya memasukan kapuk.

Ditanya, pendapatan perbulannya, Syafi’i melulu menjawab dengan senyum. Ia menyatakan tidak pernah menghitung pendapatan perbulan, lantaran lumayan kerepotan bila mengirim barang. Dan soal menghitung, kata Syafi’I itu ialah urusan pemilik. “Bukan melulu puluhan, hingga ratusan juta barangkali mas,” kata Syafi’I seraya senyum.

Kasur lesehan tidak melulu diproduksi oleh Sanudi saja, di desa tersebut, ada sejumlah warga desa Cikeduk yang pun memilih menjadi pengusaha kasur lesehan. Selain termasuk ekonomi kreatif, penciptaan kasur lesehan dinilai membantu beberapa besar ibu-ibu, dan remaja putri, kepala lokasi tinggal tangga dan bujangan pun, mendapat perkerjaan yang pantas untk memenuhi keperluan setiap hari. (Muhamad Syahri Romdhon)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *