Pilihan Contoh Ruang Keluarga Sederhana

Diposting pada 232 views

Sumber gambar, ASF-ID

3 Contoh Desain Ruang Keluarga Yang Perlu Kamu Ketahui
3 Contoh Desain Ruang Keluarga Yang Perlu Kamu Ketahui | Contoh Ruang Keluarga
3 Ide Inspirasi & Gambar Desain Rumah, Apartemen, Apartemen
3 Ide Inspirasi & Gambar Desain Rumah, Apartemen, Apartemen | Contoh Ruang Keluarga

Sejumlah penggusuran yang dilaksanakan pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap permukiman di pinggir Sungai Ciliwung, menciptakan warga Kampung Tongkol di Jakarta Utara was-was. Mereka juga melakukan sekian banyak daya upaya supaya tidak digusur, contohnya dengan mencukur rumah dan bermukim seatap dengan 20 orang dalam sebuah lokasi tinggal ‘gaya baru’ yang mereka sebut sebagai Rumah Contoh.

Pagi tersebut langit terang kebiruan, gemericik anak kali Ciliwung dan semilir angin yang terasa sejuk, sejenak menciptakan saya tak sempat sedang sedang di Jakarta.

Bersama dengan Gugun Muhammad, saya menyusuri lokasi tinggalnya di Kampung Tongkol, Jakarta Utara yang terletak di pinggir kali.

Menarik melihat dusun ini sebab permukiman di pinggir kali seringkali identik dengan sampah, citra kumuh dan tidak sehat. Namun, dusun Tongkol berbeda, bahkan terdapat jalan selebar lima meter yang memberi batas rumah-rumah dan dinding sungai.

Kepada saya Gugun bercerita, selama dua tahun kemudian keadaannya tidak laksana ini. “Dulu kamar mandi dan dapur saya terdapat di atas kali, sempit sekali,” kisah Gugun.

Sumber gambar, AFP

Contoh permukiman di pinggir Sungai Ciliwung.

Situasi berubah saat pemerintah provinsi DKI Jakarta mengaktifkan program normalisasi Sungai Ciliwung. Berbagai dusun di pinggir sungai, contohnya Kampung Pulo, Jakarta Timur; Pasar Ikan, Jakarta Utara dan Pinangsia, Jakarta Barat, digusur.

“Ada kabar (kami) inginkan digusur juga. Pemerintah meminta rumah tersebut jaraknya mesti 15 meter dari pinggir kali. Ada tawaran pun kami dipindah ke lokasi tinggal susun. Tapi sesudah musyawarah, masyarakat tidak setuju sebab (rumah susun) mesti dicarter setelah dua tahun,” ungkap Gugun.

Gugun Muhammad berupaya mengolah citra Kampung Tongkol yang sebelumnya dinamakan kumuh dan sering menjadi penyebab banjir.

Memutar akal supaya tidak digusur, mereka pun berjuang “membuat kondisi baru, bahwa hidup di pinggir sungai tersebut tidak laksana yang dituduhkan pemerintah.”

Gugun mengeluh bahwa kampungnya sering dituduh sebagai “pembuat banjir sebab warga buang sampah ke sungai, mengotori air sebab kotoran lokasi tinggal tangga juga dilemparkan ke sungai, tidak sehat dan tidak manusiawi.”

Hal kesatu yang penduduk Kampung Tongkol kerjakan untuk memperlihatkan kemauan berbenah ialah dengan mencukur rumah mereka. “Dulu tersebut jarak dari lokasi tinggal ke dinding batas sungai melulu satu atau dua meter.”

Atas kesepakatan dengan camat setempat, “yang dicukur hanya lima meter dari pinggir sungai,” kisah Gugun. Aksi bareng memotong rumah tersebut pun dibuka pada mula 2015. Menurutnya kala tersebut bahkan ada lokasi tinggal yang benar-benar dirombak karena tempatnya tepat di pinggir dinding sungai.

Sumber gambar, ASF-ID

Rumah Contoh saat baru berlalu dibangun.

Namun, motivasi tersebut berujung pilu saat camat berganti dan pejabat yang baru meminta supaya jarak permukiman dari pinggir sungai mesti 15 meter, cocok Peraturan Daerah Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta.

“Warga juga putus asa, drop, sebab kami mulai beranggapan akan benar-benar digusur.”

3 Desain Ruang Keluarga Kekinian Ini Pas untuk Rumah Mungil
3 Desain Ruang Keluarga Kekinian Ini Pas untuk Rumah Mungil | Contoh Ruang Keluarga

Sumber gambar, ASF-ID

Rumah Contoh di Kampung Tongkol berjarak lima meter dari dinding yang memberi batas sungai.

Namun, kekhawatiran tersebut diakuinya justeru membuat penduduk semakin motivasi untuk mengindikasikan bahwa permukiman ramah lingkungan di pinggir sungai tersebut mungkin guna diwujudkan.

Dengan ditolong dana hibah sebesar Rp160 juta dari LSM Urban Poor Consortium pada November 2015, mereka pun membina Rumah Contoh. Ada dua Rumah Contoh yang sudah dibangun di Kampung Tongkol.

Rumah Contoh di Kampung Tongkol.

Rumah Contoh ialah rumah tiga lantai, guna menyiasati lebar lokasi tinggal yang bermukim lima meter sesudah dipotong. Rumah disekat-sekat. “Ada tujuh family yang bermukim di sini (satu atap Rumah Contoh), terdapat 21 jiwa yang hidup di dalamnya,” tutur Gugun yang adalah penghuni di antara sekat Rumah Contoh.

Dibantu kumpulan arsitek dari Architecture Sans Frontieres Indonesia (ASF-ID), Rumah misal dibangun dengan material ramah lingkungan; bata enteng berpori, kayu daur-ulang dan bambu.

Sungai di depan permukiman penduduk di Kampung Tongkol relatif bersih sebab warga tidak lagi melemparkan sampah ke sungai.

“Ini gaya hidup baru,” tutur Gugun seraya tersenyum. “Jarak lokasi tinggal dengan sungai, cukup. Lalu terdapat tanki septik sendiri di bawah rumah, sampai-sampai kotoran tidak lagi dilemparkan ke sungai. Kamar mandi pun di-share bareng-bareng, jadi gak sendiri-sendiri kayak dulu lagi, pun ada air bersih mengalir.”

Gugun pun menyuruh saya masuk ke di antara sekat (ruang) Rumah Contoh. Dengan luas selama dua separuh meter kali lima meter, ruang tersebut dihuni oleh satu keluarga.

Ruang yang tidak besar tersebut pun dipecah dua. Sekitar dua pertiga guna bagian depan dan sepertiga guna dapur dan tempat membasuh di unsur belakang.

Bagian depan lokasi tinggal yang dipakai sebagai ‘tempat apa saja,’ tergolong bekerja.

Dengan agak tergelak, Gugun menceritakan faedah ruang depannya, “Ini semuanya di sini. Satu ruangan guna tidur, makan, nonton TV, ruang keluarga, terima tamu, satu ruangan untuk seluruh fungsi,” akunya seraya menunjuk-nunjuk ke arah lantai.

“Rumah Contoh ini hanya perangsang sebenarnya,” dia lanjut bercerita. “Harapannya diaplikasikan oleh rumah-rumah lain. Sekarang 164 lokasi tinggal di sini semuanya sudah mencukur rumah mereka. Dari jumlah itu, yang telah buat tanki septik telah 22 rumah, memang masih jauh tetapi telah ada kemajuan, nggak nol.”

Tong sampah yang ditemukan di masing-masing 10 meter di Kampung Tongkol.

Sementara guna sampah, penduduk Kampung Tongkol menyatakan “tidak lagi membuangnya ke sungai.” Ketika saya di sana, sungai memang relatif bersih. Di samping itu, di sepanjang permukiman, masing-masing 10 meter terdapat tong sampah bewarna hijau.

Warga pun mengurangi sampah dengan “tidak lagi melakukan pembelian barang sayur gunakan plastik, setiap sayur diplastikin. Ada lima perwakilan penduduk yang dijadikan pelopor, dijadikan contoh. Mereka bawa tas sendiri bila belanja. Nah, yang bawa tas ini, kalau melakukan pembelian barang di atas Rp15.000, bisa diskon Rp500. Kita telah buat kesepakatan sama tukang sayurnya.”

Cara itu, dinamakan Gugun terbukti meminimalisir sampah sampai 88%.

Warga menciptakan kebun kecil di sepanjang pinggir sungai.

Dengan segala evolusi yang dilakukan, saya penasaran dengan pendapat lain penduduk Kampung Tongkol. Saya bertemu Ratna, yang telah 38 tahun bermukim di sini.

“Beda banget. Dulu lokasi tinggal (saya) jelek. Airnya air sumur, bila nyari air minum mesti dibeli. Sekarang telah serba ada,” ceritanya dengan sarat semangat.

Ratna yang telah 38 tahun bermukim di Kampung Tongkol menampik untuk direlokasi.

Memotong lokasi tinggal dan bermukim seatap dengan 20 orang supaya tidak digusur

Ketika ditanya, kenapa tidak inginkan pindah ke lokasi tinggal susun dengan garansi tempat bermukim yang lebih pasti, Ratna menjawab, “di sini telah enak suasananya.”

“Kalau dipindah ke rusun kan bayar. Kalau Bapaknya kerja, nggak apa, bila nggak kerja, dari mana bisa uang sewanya. Kalau (kami digusur), sediain lokasi yang kayak begini lagi, sendiri, bukan rusun, sebab sekarang telah enak, nggak kebocoran,” ungkapnya.

Bagaimanapun tetap saja penduduk Kampung Tongkol tidak mempunyai sertifikat kepemilikan tanah yang dinyatakan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Di sekian banyak lokasi, Kampung-kampung di pinggir Sungai Ciliwung laksana ini, telah digusur supaya program normalisasi sungai dapat dijalankan Pemprov.

Sumber gambar, AFP

Alat berat meratakan permukiman penduduk di Bukit Duri, Jakarta Selatan, pada September 2016.

Hingga ketika ini, paling tidak telah lima area yang digusur dan direlokasi; Pasar Ikan, Jakarta Utara; Kampung Pulo, Jakarta Timur; Bidaracina, Jakarta Timur; Bukit Duri, Jakarta Selatan; serta Pinangsia, Jakarta Barat.

Permukiman di kawasan tersebut semuanya direlokasi oleh gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Sumber gambar, AFP

Program normalisasi Kali Ciliwung yang dilakukan pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama berujung penggusuran dan relokasi sebanyak permukiman di pinggir sungai.

Kepada wartawan, April lalu, Ahok sempat berkomentar soal Kampung Tongkol, “Kalau belum terdapat rusun, kami enggak bakal gusur. Tapi bila sudah ada, ya kalian mesti pindah, kami bakal gusur.”

Berdasarkan keterangan dari Gugun, semenjak Rumah Contoh selesai, belum terdapat lagi komunikasi dengan Pemprov DKI Jakarta, berhubungan apakah evolusi yang mereka kerjakan sudah lumayan untuk menciptakan warga Kampung Tongkol tidak digusur.

Apalagi ketika ini Ahok tengah sibuk berlomba sebagai calon gubernur petahana, dan menghadapi permasalahan hukum sangkaan penistaan agama yang melilitnya. Tidak tersiar lagi informasi apakah Kampung Tongkol tetap bakal digusur atau tidak.

Tinggalkan Balasan