Pilihan Cara Menyusun Ruang Tamu Kreatif

Diposting pada 712 views

Rumah Djiauw Kie Siong telah dialihkan dari tempat aslinya pada 1957.

Panduan Menata Perabot di Ruang Tamu agar Tampak Serasi
Panduan Menata Perabot di Ruang Tamu agar Tampak Serasi | Cara Menyusun Ruang Tamu
4 Tips Hiasan Ruang Tamu Yang Mudah Supaya Nampak Cantik & Elegan
4 Tips Hiasan Ruang Tamu Yang Mudah Supaya Nampak Cantik & Elegan | Cara Menyusun Ruang Tamu
Panduan Menata Perabot di Ruang Tamu agar Tampak Serasi
Panduan Menata Perabot di Ruang Tamu agar Tampak Serasi | Cara Menyusun Ruang Tamu

Hari ini 70 tahun yang lalu, pada 16 Agustus 1945, Sukarno dan Mohamad Hatta “diculik” oleh sebanyak pemuda dan diangkut ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Di sana Sukarno-Hatta yang lantas menjadi proklamator kebebasan Indonesia, singgah di sebuah lokasi tinggal milik Djiauw Kie Siong, salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

BBC Indonesia mendatangi rumah yang menjadi saksi sejarah proklamasi kebebasan Indonesia.

Di lokasi tinggal Djiauw Kie Siong yang semula sedang di pinggiran Sungai Citarum dialihkan di tempat yang berjarak selama 150 meter dari lokasi asli di Kampung Bojong, Rengasdengklok, pada 1957.

Berdasarkan keterangan dari cucu Kie Siong, Djiauw Kim Moy, bangunan lokasi tinggal dan unsur ruang tamu masih pribumi termasuk pun lantai ubin berwarna terakota yang biasa dipakai untuk lokasi tinggal keturunan Tionghoa.

Dua kamar yang sempat dipakai Sukarno dan Hatta pun masih dipertahankan format aslinya. Bahkan ranjang tua dari kayu jati juga masih terdapat di kamar yang sempat dipakai Bung Hatta guna beristirahat.

“Ini ranjang masih asli, namun di kamar Bung Karno bukan, sebab yang asli sudah dibawa ke museum di Bandung,” jelas Kim Moy.

cara membuat ruang tamu kecil terlihat besar-4 - Informasi Rumah
cara membuat ruang tamu kecil terlihat besar-4 – Informasi Rumah | Cara Menyusun Ruang Tamu

Di ruang tamu dipajang sejumlah potret Sukarno dan Kie Siong, tergolong juga potret Megawati dan Joko Widodo, presiden Indonesia ketika ini, yang sempat berangjangsana ke lokasi tinggal tersebut.

Sejumlah potret Sukarno dipajang di ruang tamu lokasi tinggal Djiauw Kie Siong.

Para pemuda memilih lokasi tinggal Djiauw Kie Siong, sebab dekat dengan markas Peta yang kini dijadikan Monumen Kebulatan Tekad.

Dan kenapa Rengasdengklok? Karena tempat yang berjarak selama 81 kilometer dari Jakarta tersebut jauh dari cakupan pengawasan tentara Jepang.

Rengasdengklok berjarak selama 15 kilometer dari jalan utama, yang tergolong bagian dari jalur pantura. Bahkan ketika ini juga perjalanan ke lokasi tinggal Djiauw Kie Siong juga masih terasa jauh dan agak terpencil.

Hanya papan bertuliskan “bangunan ini adalah cagar budaya” yang menjadi satu-satunya petunjuk.

Meski demikian, lokasi tinggal tersebut tidak jarang kali ditemui para pengunjung, antara beda Rudianto dari Kawarang.

“Saya sudah sejumlah tahun bermukim di sini, tak pernah ke sini dan hendak melihat bagaimana lokasi tinggal tempat penculikan Sukarno dan Hatta yang saya ketahui semenjak SD,” jelas dia.

Dia menyatakan sulit untuk menggali rumah Djiauw.

Sementara Adi Purwanto penduduk Bogor menyatakan sedikit kecewa sebab tidak terlalu tidak sedikit informasi yang didapat tentang kejadian malam 16 Agustus 45 di lokasi tinggal tersebut.

“Ada kamar saja dan sebanyak foto, seharusnya ada pun informasi ekstra dari sejarah tentang lokasi tinggal ini, di samping dari pemiliknya,” kata Adi.

Kamar yang sempat dipakai Bung Karno guna beristirahat.

Pada pagi-pagi sekali 16 Agustus 45, Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana serta rekan-rekannya “menculik” Sukarno dan Hatta sebab menilai semua seniornya tersebut lambat guna menyatakan kebebasan Indonesia.

“Penculikan” dilaksanakan dengan maksud supaya kemerdekaan Indonesia dipercepat, namun menurut keterangan dari sejarawan JJ Rizal, perbuatan pemuda tersebut dinilai justeru memperlambat pembacaan teks proklamasi.

“Jadi saat diculik, Bung Hatta tengah merangkai teks proklamasi lantas para pemuda membawanya dari kediamannya bareng Sukarno, tersebut yang menciptakan Bung Hatta marah sebab seharusnya teks proklamasi diucapkan lebih cepat andai mereka tidak dibawa semua pemuda,” jelas JJ Rizal.

Terlebih di Rengasdengklok tidak terdapat yang dapat dilakukan oleh Sukarno-Hatta.

Setelah beristirahat di lokasi tinggal asli Djiauw hingga 16 Agustus malam, Sukarno- Hatta kesudahannya “ditemukan” oleh Ahmad Subardjo dan Soediro, lantas dibawa pulang ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Sukarno dan Hatta yang masih didampingi figur pemuda Sukarni menuju sejumlah tempat dan akhirnya hingga di lokasi tinggal Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol, yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Teks proklamasi yang dirumuskan pada 17 Agustus 1945 pagi-pagi sekali itu kemudian diucapkan oleh Sukarno, didampingi Bung Hatta di Jakarta.

Djiauw Kwin Moy cucu dari Djiauw Kie Siong yang merawat lokasi tinggal bersejarah.

Ranjang yang dipakai Bung Hatta masih asli tergolong ubin terakota.

Tinggalkan Balasan