Pilihan Teras Untuk Ruang Tamu Sederhana

Diposting pada 603 views

Desain Teras Sekaligus Ruang Tamu Minimalis  Ruang keluarga
Desain Teras Sekaligus Ruang Tamu Minimalis Ruang keluarga | Teras Untuk Ruang Tamu
3+ Model dan Desain Ruang Tamu Terbuka Minimalis
3+ Model dan Desain Ruang Tamu Terbuka Minimalis | Teras Untuk Ruang Tamu

JAKARTA Media – Pemenang Sayembara Desain Homestay Nusantara 2016 ternyata punya teknik tersendiri guna menjadi yang terbaik. Peserta dengan judul karya Titik Temu tersebut diciptakan atas dasar pengalaman mendatangi salah satu tujuan prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Kota Tua, Jakarta. Yang oleh Menpar Arief Yahya disebut sangat layak diciptakan pusat jalan-jalan di tengah heritage building laksana di tidak sedikit negara Eropa maupun Amerika.

”Ide mengenai desain Titik Temu (Rumah Beranda) berasal dari empiris saat sejumlah kali menyusuri Kota Tua. Kami melihat banyak sekali orang melulu ramai di satu titik, yakni Plaza Museum Fatahillah. Kami menggali solusinya dengan teknik menciptakan Homestay yang layak di dekat tempat tersebut, dan terbuat lah Titik Temu atas dasar empiris kami merasakan Kota Tua,” Kata Ketua Tim Aditya Wiratama, Sabtu (12/11/2016).

Aditya menciptakan karya menjadi pemenang tidak sendirian. Adit-sapaan akrab Aditya-memperoleh hadiah pemenang utama  duit tunai Rp 50 juta pada 25 Oktober silam, di Kantor Kemenpar bareng rekannya Rizky Rahmadanti dan Dimas Dianggara Putra.

Sayembara yang didukung oleh Badan Ekonomo Kreatif dan Propan Raya tersebut memang mesti jeli supaya bisa menjadi pemenang. Begitu pun yang dilaksanakan Aditya dkk. Kata Adit, secara rinci Homestaynya diciptakan supaya para wisatawan dapat nyaman dan tertarik menginap.

3 Model Teras Rumah Minimalis Favorit Para Ibu
3 Model Teras Rumah Minimalis Favorit Para Ibu | Teras Untuk Ruang Tamu

Adit menjelaskan, dia berpatokan untuk peta konservasi Kota Tua yang dipermaklumkan menjadi tujuan wisata. Kota Tua mempunyai area yang mesti dikonservasi yaitu bangunan dan objek-objek memanjang hingga ke ujung Pulau Sunda kelapa. ”Agar wisatawan tidak capek jalan, dan tidak terlanjur malas guna menyusurinya dengan jalan kaki, maka lahirlah konsep kami yakni tempat Guest House yang tersebar mengekor jalur titik-titik objek wisata yang di Konservasi. Jadi mereka seraya istirahat langsung menginap,” ujar Adit.

Adit berharap,  nantinya Homestay tidak saja menjadi lokasi tinggal tinggal wisatawan namun pun menjadi lokasi tinggal singgah untuk siapa saja yang merasa lelah saat menyusuri area Kota Tua.

”Disinilah empunya rumah dan Tamu bakal bertemu sekian banyak macam pejalan kaki yang singgah ke lokasi tinggal mereka. Dari sana diinginkan ada suatu interaksi baru yang tercipta, terdapat informasi yang dapat dibagi untuk si pejalan maupun penghuni lokasi tinggal tentang perjalanan mereka ataupun kisah si penghuni mengenai Kota Tua. Jadi semakin terkenal wilayah Kota Tua,” ujarnya.

Untuk desainnya ? Aditya bareng tim pun memikirkan dengan paling matang dan terkonsep. Kata Adit, desain lokasi tinggal berasal dari studi tentang typologi rumah  dan bangunan khas yang terdapat di Kota Tua. Namun timhya juga berjuang terus mengedepankan tentang kebiasaan local Jakarta dengan pelbagai kultur yang sudah masuk dan bercampur.

”Oleh karena tersebut bangunan didesain dengan konsep menyatukan sekian banyak ciri dari bangunan khas dari masing-masing kebiasaan tersebut. Yang kesatu, sebagai titik temu bangunan dicirikan dengan adanya menara. Hal ini di samping sebagai penanda sampai-sampai keberadaannya sehingga gampang di kenali, pun sebagai lokasi sirkulasi udara pada atap yang juga dapat kita temui di bangunan-bangunan kolonial di kota tua. Sedangkan atap dan jendela mengadopsi bangunan klenteng yang terdapat di area petak sembilan yang pun masih menjadi area dengan kultur yang kental di area Kota Tua,” ujarnya.

Selanjutnya, imbuh Aditya, dengan luasan yang terbatas, prinsip efisiensi ruang menjadi isu yang urgen dalam membina Home Stay. Melihat objek dikawasan Kota Tua, jembatan kota Intan menjadi di antara bangunan yang merealisasikan efisiensi ruang. Dengan sistem jembatan yang dapat diangkat ketika kapal lewat, ruang itu menjadi luwes dan bisa menyesuaikan kegunaannya sesuai kebutuhan. Prinsip itulah yang pun diterapkan pada Titik Temu.

”Rumah selanjutnya menjadi titik temu untuk penghuni, tamu, turis dan masyarakat selama yang melewatinya. Poin utamanya di situ,” kata Adit.

Untuk teras atau beranda didesain dengan dinding yang dapat di buka tutup dan berubah kegunaannya sesuai kebutuhan. Fungsinya pun dicocokkan dengan kebiasaan dan perilaku masyarakat dari sekian banyak budaya. ”Fungsi yang kesatu Beranda dapat digunakan sebagai toko atau warung untuk pemilik rumah, urusan ini mengadopsi kebudayaan orang Tionghoa yang memfungsikan teras sebagai toko di rumahnya. Yang kedua beranda dapat digunakan sebagai teras publik laksana pada lokasi tinggal kebaya atau lokasi tinggal adat Betawi dimana teras menjadi ruang tamu publik yang dapat diakses siapa saja tamu yang singgah,” ujar Rizky Rahmadanti.

Tinggalkan Balasan