Denah Tempat Tidur Anak Laki Laki Karakter Fungsional

  • Whatsapp

Media BEKASI — Tinggal di lokasi tinggal mewah di sebuah kompleks elit, rupanya tidak menciptakan hidup lima orang anak yaitu D (8), CK (10), LA (10), A (5) dan DI (4) merasa bahagia. Bahkan pada prakteknya kedua orang tuanya sudah menelantarakannya.

Model Tempat Tidur Anak Tingkat Modern Minimalis Untuk Laki Laki
Model Tempat Tidur Anak Tingkat Modern Minimalis Untuk Laki Laki | Tempat Tidur Anak Laki Laki Karakter
TEMPAT TIDUR KARKTER BULL DOZER - JEPARA MEBEL JAYA
TEMPAT TIDUR KARKTER BULL DOZER – JEPARA MEBEL JAYA | Tempat Tidur Anak Laki Laki Karakter
3 Desain Kamar Anak Laki-Laki yang Super Stylish
3 Desain Kamar Anak Laki-Laki yang Super Stylish | Tempat Tidur Anak Laki Laki Karakter

Lima orang anak itu ialah pasangan dari Utomo dan Nurindria, yang adalah warga kompleks mewah Citra Grand, Jatikarya, Jatisampurna, Kota Bekasi. Meski bermukim di lokasi tinggal mewah, dan orang tuanya berprofesi sebagai dosen di di antara perguruan tinggi di Bogor, nyatanya kehidupan lima orang anak tersebut jauh dari cerminan hidup berbahagia.

D (8), misalnya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu seharusnya dapat mendapat perlakuan baik atau didikan bagus dari kedua orang tuanya tersebut. Tapi kenyataannya, ia malah mendapat perlakuan sebaliknya.

D tidak jarang mendapatkan perbuatan kekerasan dari  orang tuanya itu dan anak tersebut juga tidak jarang diterlantarkan di luar rumah. Bahkan sebab sering menemukan perlakuan seperti tersebut warga mengira D ialah anak tiri. Saat ditanya apakah ia ialah anak tiri, dengan polos bocah itu melulu menjawab tidak tahu.

Berdasarkan penjelasan warga sekitar, sudah nyaris sebulan D istirahat di pos petugas ketenteraman yang sedang di pintu masuk komplek rumahnya. Ia tidak dapat merasakan nyamannya istirahat di dalam kamarnya, lantaran tidak jarang dikuncikan pintu oleh kedua orang tuanya.

Petugas ketenteraman yang iba dengan anak ini pun, kesudahannya menyediakan permasalahan tipis guna D beristirahat di dalam pos Satpam. Bukan melulu itu saja, D pun sering merasakan kelaparan.

Meski memiliki orang tua yang notabenenya berpenghasilan besar, tetapi untuk menyambung hidup, bocah tersebut harus menantikan belas kasihan dari penduduk dan penjaga pos yang memberinya makanan. Tak jarang ia mesti berkeliling ke rumah-rumah tetangganya menggali makanan layaknya pengemis, ketika lapar melanda.

TEMPAT TIDUR KARAKTER PAW PATROL - JEPARA MEBEL JAYA
TEMPAT TIDUR KARAKTER PAW PATROL – JEPARA MEBEL JAYA | Tempat Tidur Anak Laki Laki Karakter

Berdasarkan keterangan dari penjaga pos, Boih Susanto menuliskan bahwa D pun pernah tidak mandi dan ganti baju sekitar seminggu sampai-sampai dia dan temannya mesti memandikannya. Waktu memandikannya, pernah suatu saat di kepala Dani terlihat darah kering bekas luka.

“Itu selama tiga bulan yang lalu, namun Dani menyatakan jatuh dari lokasi tidur. Tapi kelihatannya dia mendapat kekerasan,” katanya.

“Kalau lagi lapar, dia bertanya ‘ada makanan gak om. Ya saya kasih seadanya,” ujarnya.

Boih menuliskan pernah sekali waktu menyaksikan langsung anak tersebut mendapat kekerasan dari orang tuanya. Saat itu, ayah D yang biasa dikenal dengan nama Tomi datang ke pos Satpam untuk mengajak D pulang.

Ketika tersebut D sedang tertidur. Namun bukannya membangkitkan anaknya secara pelan-pelan, Tomi malah menginjak paha D, sampai anak tersebut terbangun. Boih juga pernah mendapat pernyataan dari D, andai bocah tersebut takut kembali kerumah.

Di samping itu, warga pun pernah sejumlah kali menyaksikan anak tersebut mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. Salah satu tetangga D, Agustini mengaku pun sering menampung anak tersebut di rumahnya.

Melihat D yang diterlantarkan dan merasakan bekas luka dampak tindak kekerasan, Agustini pernah meminta supaya D di berikan kepadanya guna rawat. Namun, orang tua D bukannya menyadari kekeliruannya, malah marah mendengar rasa prihatin dari warga.

“Pak Tomi justeru mencak-mencak dan mendakwa saya menyekap anaknya. Saya pernah menakut-nakuti akan mengadukan dia ke pihak kepolisian bila anaknya diperlakukan kasar lagi, namun Tomi tidak menghiraukan ancaman itu,” ujarnya.

Bukan melulu ayah dari D yang marah masing-masing kali ada penduduk yang prihatin melihat situasi D dan saudara-saudarinya. Istri Tomi, pun pernah memarahi warga.

“Saya pikir bila salah satunya waras tentu anak tersebut tidak bakal menderita, Seorang ibu bakal berkorban nyawa sekalipun bahkan memasarkan dirinya sekalipun supaya anaknya tidak kelaparan. Mereka tidak begitu, Kalau santap direstoran, mereka santap di dalam. Sedangkan anaknya santap di luar atau di tempat-tempat sampah,” katanya

Sementara Fatimah, tetangga Tomi lainnya menyatakan sering mendengar rintihan anak-anak dari lokasi tinggal itu. Rintihan itu, andai tidak berasal dari D, bisa jadi besar berasal dari empat anak wanita Tomi.

“Siapa lagi yang merintih, sementara D pada waktu tersebut sedang menginap di lokasi tinggal saya,” ujarnya.

Ketika Fatimah mengupayakan untuk menegur sikap Tomi yang keras terhadap Dani, malah Tomi membantahnya.Tomi menuliskan bahwa begitulah teknik ia melatih anak laki-lakinya tersebut, sampai-sampai warga juga dilarang ikut campur olehnya.

“Pernah warga mengunjungi rumah Tomi dua kali, namun Tomi dan istrinya tidak welcome. Bahkan mereka berdua justeru mengejek penduduk sebagai orang kampung,” jelasnya.

Melihat perlakuan Tomi dan istrinya tersebut. Akhirnya penduduk melaporkan untuk ketua RT, Sugeng Pribadi. Selanjutnya, Sugeng Pribadi  beserta penduduk melapor untuk Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atas dasar penelantaran anak. Komisioner KPAI, Erlinda juga menyambut laporan warga.

Sehingga pada Kamis (14/5) pukul 12.00 WIB, rombongan  KPAI, JATANRAS, dan Polsek Pondok Gede sukses mengamankan lima anak tersebut.  Ketika penggerebekan, wajah Tomi dan istrinya pun terlihat kaget saat membuka pintu karena ditemui oleh orang-orang berseragam.

Berdasarkan keterangan dari penjelasan Sugeng Pribadi, selama 10 menit mereka menyanggah dakwaan penelantaran anak tersebut. Tomi menyangkal bahwa anak tersebut (Dani) memang badung dan sering terbit malam.

Bahkan, Tomi bakal menuntut penduduk balik sebab Tomi memandang bahwa penggerebekan ini adalah pembunuhan karakter terhadap dirinya.

“Saya akan mengadukan balik, sebab sebenarnya penduduk yang menyekap anak saya,” jelas Sugeng menirukan ucapan Tomi di masa-masa penggerebekan.

Di samping itu, saat Tomi menyanggah, Sugeng Pribadi menuliskan bahwa Tomi pun menyebut inisial dua huruf dari Mabes Polri sebagai tameng diri Tomi saat melakukan penyanggahan. Namun, Sugeng tidak mau menuliskan dua huruf tersebut sebab takut salah.

Saat ini Tomi beserta istrinya mesti berurusan dengan pihak kepolisian, sebab telah melanggar uu no 35 tahun 2014 pasal 76 B yang berbunyi anak yang mendapat perlakuan salah dan penelantaran bakal di jerat pasal 77 B dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *